Merdeka (?)


Kau bilang merah darahku, putih tulangku, tetapi bukan berarti merah putih jiwamu !

17 Agustus 2016, tepat 71 tahun Indonesia merdeka. Mayoritas rakyat Indonesia merayakan dan tenggelam dalam gegap gempita hari kemerdekaan. Ada yang ikut lomba 17-an hingga sekedar mengganti profile picture media sosial atau menyebarkan status dengan sedikit mengutip kalimat-kalimat keren nan menggugah dari para pejuang Indonesia dulu. Semua dilakukan untuk menunjukkan kecintaannya pada Indonesia. Hari itu, aku sedang mendapatkan tugas untuk menjaga rumah karena rumah sedang direnovasi.

Ya berbakti pada orangtua dan rumah- kan juga bagian berbakti pada bangsa dan negara? Tetapi ada yang berbeda hari itu karena tiba-tiba seorang kawan bertanya, “Bagaimana rasanya merdeka?” Dari 21 tahun umurku dan 21 kali melewatkan hari kemerdekaan Indonesia, baru sekali ini aku ditanya apa rasanya merdeka saat 17 Agustus. Susah sekali pertanyaan ini dijawab. Memang kawanku yang satu itu mantap sekali pemaknaannya. Hal sederhana bisa dijadikannya sangat mendalam. Walaupun seringkali ketika kuberikan tanggapan dikiranya aku mengejek *damai* (tapi terimakasih pertanyaannya menjadi bahan renungan dan pengingat). Dalam waktu singkat aku pun mencoba memberikan jawaban yang paling spontan dan begini jawabanku :

“Belum, saya belum merdeka. Masih terjajah sama mimpinya pejuang-pejuang. Ga bisa hidup tenang kalau belum usaha dikit buat nuntasin mimpi-mimpi mereka hahaha.”

Ya itu jawabanku.
Mungkin terdengar sok iye . Mungkin juga terlihat sederhana. Tapi aku yakin bahwa itu jawaban finalku dan jawaban itu kuperoleh setelah aku bisa menjawab sebuah pertanyaan abstrak : apa itu nasionalisme menurut diriku. Jawaban itu kuperoleh dari interaksi dengan berbagai sumber mulai dari orang-orang terdekat, buku, hingga orang-orang yang tidak ku kenal. Salah satu yang menjadi sumber utamaku adalah pejuang-pejuang awal kemerdekaan Indonesia. Mereka sering kujumpai dalam bentuk tulisan entah itu kisah hidup hingga pemikiran mereka. Kusebut mereka semua sebagai “Sang Pencerah”. Karena melalui merekalah banyak pelajaran yang bisa ku ambil. Salah satunya tentang nasionalisme. Mereka mengajarkanku tentang nasionalisme Indonesia, nasionalisme kita, yang jelas berbeda dengan nasionalisme bangsa lain. Mereka mengajarkanku bagaimana menempatkan nasionalisme pada tempatnya. Dan beginilah hasil kesimpulanku dari yang telah mereka ajarkan tentang nasionalisme kita, nasionalisme Indonesia.

Nasionalisme kita bukanlah terbentuk akibat adanya rasa superioritas akan bangsa sendiri. Tidak seperti nasionalisme yang diagungkan Hitler saat Perang Dunia II dimana dia menganggap orang Jerman adalah keturunan bangsa Arya yang lebih maju dari segala bangsa sehingga dia bisa membunuh bangsa lain. Itu chauvinisme. Memang kita punya sejarah bahwa nenek moyang kita zaman Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit pernah menguasai Asia Tenggara, tetapi itu sejarah berabad yang lalu dan harus dijadikan bekal menatap masa depan. Justru nasionalisme kita hadir untuk melawan sindrom inferior bangsa kita terhadap bangsa asing yang terbentuk akibat penjajahan. Mental inlander katanya. Pernah kita merasa minder terhadap bule? Menganggap mereka selalu lebih baik dari kita sehingga kita merasa tidak ada apa-apanya? Ya itu mental inlander.

Nasionalisme kita hadir untuk memberikan pegangan bahwa sebagai sebuah bangsa kita harus mau dan bisa menentukan suratan takdir kita sendiri. Memilih berdiri dengan kaki sendiri atau tidak berdiri sama sekali. Nasionalisme kita lahir dari kesamaan rasa bahwa penjajahan itu tidak enak sama sekali. Penjajahan hanya memberikan kesengsaraan. Penjajahan hanya membawa penindasan-penindasan yang tidak berujung. Kesamaan rasa ini yang memunculkan kesadaran dan keinginan bersama untuk berjuang melawan penjajahan. Ingat, kesadaran dan keinginan bersama. Penjajahan harus dilawan apapun bentuknya. Penjajahan fisik, mental bahkan yang tidak terlihat seperti ekonomi. Walaupun kita tidak terhubung secara darah atau identitas seperti suku maupun agama, kita punya musuh bersama untuk dilawan. Dia adalah penjajahan. Dan untuk melawan penjajahan yang bahkan masih berlangsung hingga sekarang, kita harus bersatu dan bersama.

Oleh karena itu, nasionalisme kita juga bicara tentang satu identitas yaitu bangsa Indonesia. Latar belakang, ras, suku, dan agama boleh berbeda tetapi kita tetap satu sebagai bangsa Indonesia. Entah dirimu Batak, entah dirimu Jawa, atau Sumatera. Entah dirimu Islam, Buddha maupun penganut kepercayaan lokal. Kita semua bangsa Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika. Itu semboyan yang sering kali kita ucapkan tetapi tidak kita jalankan. Memang sulit menjalankannya karena ego-ego pribadi atau golongan akan tampil sebagai penghadang utama. Kita bisa lihat hari ini, konflik-konflik horizontal terus meningkat. Bagaimana dengan mudahnya kita di-adu domba hanya karena ada yang berbeda di antara kita. Keberagaman ada bukan untuk diseragamkan tapi untuk dihargai dan diselaraskan. Semua demi keutuhan bangsa.

Selain identitas, nasionalisme kita bicara tentang satu tujuan, satu cita-cita yaitu semua untuk kesejahteraan dan keadilan rakyat Indonesia. Semua untuk semua. Bukan segelintir untuk segelintir. Kesejahteraan bukan hanya untuk masyarakat Pulau Jawa tetapi juga untuk masyarakat Papua. Keadilan bukan hanya untuk mereka yang punya uang tetapi juga untuk mereka yang tidak punya uang. Walaupun kenyataan hari ini, kita masih melihat saudara sebangsa kita jangankan untuk hidup sejahtera bahkan mendapatkan keadilan saja mereka tidak bisa. Sebagai contoh Papua. Bagaimana rakyat Papua hidup dalam kemiskinan walaupun tanahnya kaya akan sumber daya alam. Bagaimana dengan dalih untuk mempertahankan pendapatan negara, tanah Papua dieksploitasi secara bebas oleh mereka yang sebenarnya berkepentingan untuk memperkaya diri sendiri. Bagaimana Papua tetap dibiarkan tidak tersentuh pendidikan agar bisa diperdaya bahkan oleh bangsa sendiri. Ternyata penjajah tidak hanya berkulit putih tetapi juga berkulit sawo matang.

Nasionalisme kita bukan nasionalisme yang anget-anget tai ayam. Hanya ketika 17 Agustus baru ditunjukkan. Hanya ketika reog dan batik diklaim oleh bangsa lain sebagai kebudayaannya baru ditunjukkan. Nasionalisme kita bukan hanya sekedar mengganti profile picture dengan bendera Indonesia. Atau nasionalisme semu yang hanya berupa slogan-slogan heroik tanpa makna. Nasionalisme kita harusnya hidup, hidup dalam bentuk semangat dan perjuangan untuk menatap Indonesia lebih baik di hari esok. Yang harusnya terpancar dari masing-masing pribadi kita sebagai manusia Indonesia. Meminjam kalimat dari Buya Hamka,

“Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekedar bekerja, kera juga bekerja” – Buya Hamka

Lalu apa yang membedakan diri kita sebagai manusia dengan kera dan babi, khususnya
sebagai manusia Indonesia?

Semangat nasionalisme harus dijaga dan dilatih agar tetap menyala konsisten. Dia bisa padam bahkan berubah menjadi kebencian jika dihantam realitas. Untuk menjaga tetap menyala, bangunlah karakter diri yang kuat sebagai benteng. Asah terus kegelisahan dan empati kita. Buat semua masalah bangsa Indonesia tidak berjarak dengan kita. Kenali betul dan coba berikan solusi walau hanya dalam pikiran saja. Dari situ akan timbul keinginan untuk berjuang karena kita akan tahu bahwa ini semua tidak akan berubah jika tidak ada yang mengubah. Semangat tadi akan berevolusi menjadi keinginan melakukan sebuah perjuangan.

Perjuangan jelas membutuhkan medan. Medan perjuangan itu yang harus kita tentukan. Tenang, medan perjuangan di Indonesia masih cukup banyak dan justru kekurangan orang karena begitu banyak lubang yang harus kita tambal bersama. Silahkan membuka perspektif lebih luas lagi. Advokasi rakyat? Pendidikan? Penelitian? Industri? Pemerintahan? Kewirausahaan? Jangan juga dulu bicara tentang seberapa besar nilai tambah yang bisa kita berikan dari perjuangan kita, tetapi seberapa ikhlas dan tulus kita untuk berjuang. Jangan juga hitung-hitungan tentang pengorbanan karena perjuangan selalu akan menghasilkan pengorbanan. Berjuanglah secara sadar dan kekuatan penuh. Perjuangan adalah pengabdian, yang akan memberikan kepuasan batin bahwa diri kita hari ini telah dipergunakan sebaik-baiknya untuk hidup orang banyak. Itu yang saya simpulkan dari mereka, Sang Pencerah.

Aku pun tidak tahu di hari esok akan menjadi apantapi sudah kupastikan ada rencana yang aku susun dan coba jalankan sejak sekarang. Yang aku tahu dan mau, di akhir hidupku ingin sekali rasanya mengucapkan dua kalimat yang selalu menjadi penyemangatku, yang diucapkan salah dua dari Sang Pencerah, Bung Karno dan Bung Hatta.

“Saja adalah manusia biasa. Saja tidak sempurna. Sebagai manusia biasa saja tidak luput dari kekurangan dan kesalahan. Hanja kebahagiaanku ialah dalam mengabdi kepada Tuhan, kepada Tanah Air, kepada bangsa. Itulah dedication of life-ku . Djiwa pengabdian inilah jang mendjadi falsafah hidupku, dan menghikmati serta mendjadi bekal-hidup dalam seluruh gerak hidupku. Tanpa djiwa pengabdian ini saja bukan apa-apa. Akan tetapi dengan djiwa pengabdian ini, saja merasakan hidupku bahagia,- dan manfaat.” – Bung Karno

“Di atas segala lapangan tanah air, aku hidup, aku gembira. Dan dimana kakiku menginjak bumi Indonesia, di sanalah tumbuh bibit cita-cita yang kusimpan dalam dadaku. Hanya ada satu negeri yang menjadi negeriku. Ia tumbuh dari perbuatan, dan perbuatan itu adalah usahaku .” – Bung Hatta dengan mengutip Rene de Clerq di dua kalimat terakhir.

Terima kasih Sang Pencerah! Biarlah semangat kalian tetap hidup di dalam jiwa-jiwa kami, anak Indonesia yang selamanya akan menjadi anak Indonesia, sama seperti kalian. Sampai bertemu nanti dengan kami di dimensi lain kehidupan ini, karena kami akan ceritakan bagaimana kondisi Indonesia terakhir di saat raga kami meninggalkan bumi manusia yang telah kalian tinggalkan lebih dahulu. Tentu dengan kabar yang lebih baik dan cerita bagaimana cara kami memperjuangkan cita-cita kalian. Kami yakin kalian akan bangga bahwa kalian tidak sia-sia pernah hidup dulu! Kami janji!

Freedom is the glory of any nations, Indonesia for Indonesians!
Selamat merdeka Indonesia dan selamanya akan terus merdeka!

Ciao,

pvg bw

 

What is your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s