Paper – Penerapan Dryness Land Ricefield Project di Indonesia Timur sebagai Solusi Ketahanan Pangan Indonesia di Masa Depan


Paper – Penerapan Dryness Land Ricefield Project di Indonesia Timur sebagai Solusi Ketahanan Pangan Indonesia di Masa Depan

Anggota:

Nicita Meinanda Yudisti | 15413057

Fathimatuz Zahro | 15413110

Salah satu isu yang diangkat dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 adalah kedaulatan pangan dalam pembangunan sektor unggulan. Menurut analisis tematik tahun 2015 tentang sensus pertanian 2013 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan Pusat Studi Asia Pasifik (PSAP) Universitas Gadjah Mada (UGM), Indonesia sedang akan fokus pada subsektor ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan pangan. Hal ini menjadi penting diperhatikan karena di masa depan diperkirakan masyarakat Indonesia mengalami kekurangan sumber pangan. Salah satu penyebabnya adalah alih fungsi pertanian yang terus meningkat tiap tahunnya.

Berdasarkan Kementerian Kehutanan (Kementan) tahun 2013, secara nasional rata-rata laju alih fungsi lahan sebesar 100.000 ha per tahun. Hasil kajian yang dilakukan oleh BPS dan PSAP UGM menyimpulkan bahwa Jawa masih menjadi daerah yang memiliki produktivitas rata-rata yang tertinggi pada komoditas terpilih (padi, jagung, kedelai, daging sapi, dan tebu). Lahan pertanian terbesar masih didominasi di pulau Jawa karena tanahnya yang subur dan cuacanya yang mendukung. Ironisnya, Jawa Barat yang merupakan provinsi dengan cadangan sawah terbesar memiliki nilai konversi lahan pertanian cukup tinggi, yaitu 3.000 hektar per tahun. Hal ini dapat terjadi karena Pulau Jawa sudah menjadi pusat pertumbuhan nasional dimana banyak dibangun pusat pemerintahan, industri, permukiman, dan perdagangan-jasa. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan pangan, Indonesia tidak bisa mengandalkan Pulau Jawa lagi sebagai lumbung padi nasional untuk ketahanan pangan, tetapi harus beralih pada pulau-pulau lain seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Papua.

Pertanian sulit dikembangkan di daerah non Jawa karena faktor tanah dan cuaca yang lebih kering padahal pada bagian Indonesia Timur secara luas wilayah perlu diperhitungkan. Oleh karena itu, untuk mendukung pertanian di daerah timur Indonesia, perlu dikembangkan konsep Dryness Land Rice Field Project (DLRP) yang diadaptasi dari konsep Sahara Forest Project (SFP) dengan sedikit inovasi yang mana idenya adalah menghijaukan gurun atau daerah panas sejenisnya. SFP ini adalah solusi lingkungan baru untuk memproduksi pangan, air, dan energi lannya dengan menggunakan panas matahari, saltwater, dan CO2 sebagai bahan utamanya serta mengkombinasikan antara teknologi saltwater-cooled greenhouses dan concentrated solar power (CSP).

Metode penelitian yang dipakai adalah analisis deskriptif-komparatif kuantitatif dengan lebih banyak menggunakan kajian literatur untuk memperoleh datanya. Dengan diterapkannya teknologi ini di Indonesia terutama pada wilayah Indonesia Timur, selain dapat mengatasi masalah ketahanan pangan, dapat juga mengatasi masalah kelaparan yang sering melanda masyarakat setempat. Meski lahan pertanian di Pulau Jawa telah banyak yang dikonversi menjadi industri dan permukiman, namun masih ada bagian wilayah lain Indonesia yang dapat dikembangkan sebagai lumbung pangan nasional yang baru.

Kata Kunci: Ketahanan Pangan, Pertanian, Sahara Forest Project, Concentrating Solar Power (CSP)

Download Versi Lengkap :Paper – Penerapan Dryness Land Ricefield Project di Indonesia Timur sebagai Solusi Ketahanan Pangan Indonesia di Masa Depan

What is your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s