Fail? Why Not?


Suatu ketika ada seorang mahasiswa tertunduk lesu. Ia berjalan perlahan, nampak ada sesuatu yang dipikirkannya. Sepulang dari perwalian dengan dosen wali di prodi, dia tidak langsung pulang atau melanjutkan rencana bermain bersama teman lamanya. Dia hanya terdiam dan duduk setangah jam di kursi taman kampus. Memikirkan betapa bodohnya dia sampai-sampai tidak lulus mata kuliah dasar dan harus mengulang di semester depan. Sudah didapatinya dia tidak akan lulus tepat waktu. Rasanya ingin marah, menangis, dan kecewa bersamaan. Semua ditumpahkan tapi tidak mau bercerita ke siapa-siapa. Secepat kilat mengalir air di kedua matanya, lalu buru-buru ia seka sebelum orang lain melihat. Aman. Habis perkara.

Kegagalan. Itulah yang dialami mahasiswa tadi. Dan itulah yang dialami oleh seluruh makhluk hidup di jagat raya ini. Namun, kata itu di lingkungan kita sepertinya sangat sulit untuk mendapat tempat.

Sejak masih kecil kita dipacu untuk menjadi rangking satu. Menjadi yang terbaik, namun seringkali lupa ditanamkan alasan dan etika untuk mencapainya. Akhirnya, anak-anak tersebut tumbuh dewasa dengan mental ingin menjadi yang terbaik, namun dengan menghalalkan segala cara.

Banyak kasus yang terjadi, kalau kita mau jujur. Ambil saja contoh : bocoran Ujian Nasional, mencontek ketika UAS, sogokan ratusan juta rupiah untuk masuk Fakultas Kedokteran, sogokan untuk bisa jadi PNS….silakan dilanjutkan sendiri daftarnya.

Faktor Lingkungan

Lingkungan kita juga mengkondisikan bahwa kegagalan adalah sebuah aib, bahan gosip, dan bahan olok-olok. Entah berapa kali kita mendengar ejekan teman-teman ketika kita menanyakan hal bodoh di kelas. Berapa kali pula kemarahan orang tua memuncak ketika nilai anaknya jeblok, tanpa mencari tahu duduk permasalahannya, dan memecahkan solusinya.

Guru-guru di kelas juga akan dengan mudahnya men-judge bahwa anak yang nilainya jelek adalah orang yang tidak punya masa depan, sumber masalah, dan pengaruh negatif. Fokus dari pendidikan adalah nilai rata-rata, kelulusan 100%, dan berbagai macam tolok ukur yang tidak memberi tempat pada kegagalan.

Budaya Apresiasi

Suatu ketika, Prof. Rhenald Kasali pernah menceritakan tentang kisah anaknya ketika bersekolah di USA. Link tulisan beliau dapat diakses disini. Pada suatu ketika, Anak beliau mendapatkan nilai E (Excellence) yang berarti sempurna untuk pelajaran mengarang Bahasa Inggris, padahal sang Profesor tahu bahwa tulisan anaknya jelek sekali. Singkat kata, beliau mendatangi guru sang anak dan memprotes penilaian tersebut yang beliau nilai tidak masuk akal.

Namun, guru tersebut justru tersenyum. Dengan sabar beliau menjelaskan bahwa, memang tulisan sang anak tidaklah bagus. Namun, untuk ukuran anak yang bahasa ibunya adalah bukan Bahasa Inggris dan baru pindah ke USA, tulisan itu adalah karangan yang sangat hebat!

Budaya apresiasi. Apresiasi terhadap proses, terhadap perjuangan. Itulah yang diberikan oleh guru-guru disana. Bukan budaya menghukum dengan motivasi berupa kata-kata ancaman seperti, “Awas”, “Kalau tidak tercapai nanti akan…” dan lain sebagainya.

Budaya apresiasi akan menimbulkan semangat untuk berkarya lebih baik lagi, menjadikan kita menjadi manusia yang berani berkreativitas, mencoba hal yang baru, melakukan inovasi, dan tentu saja, tidak takut salah. Sedangkan budaya menghukum membuat kita menjadi pribadi yang minder, miskin inovasi, takut salah, dan tidak kreatif.

Saya tidak gagal, saya hanya menemukan 10.000 cara yang tidak berhasil – Thomas Alva Edison

Saya Gagal, So?

Waktu akan mengikuti ujian nasional SMA dulu, ada celetukan yang secara tidak langsung membuat saya sadar untuk merayakan kegagalan. Waktu itu ada yang berkata, Gagal UN tidak akan membuat kita mati.”

Kadang kita lupa, bahwa ketika kita melakukan suatu kecurangan karena takut gagal, maka sebenarnya kita merugikan diri sendiri. Keberhasilan yang tercapai hanyalah semu dan tidak berarti.

Ada satu budaya bagus di Silicon Valley yang bisa kita petik. Bagi komunitas teknologi dan startup disana, entrepreneur yang gagal justru dilabeli sebagai entrepreneur yang berpengalaman. Mereka juga menuliskan startup postmortem failure report – semacam laporan kegagalan perusahaan yang dirintis beserta analisis penyebab dan juga solusi yang bisa dipetik.

fail

Kegagalan bukanlah aib, kegagalan adalah pelajaran yang berharga.

Melanjutkan kisah mahasiswa tadi. Setelah kegagalan besar melandanya. Ia pun sadar. Seperti kebanyak kisah inspiratif lainnya maka sang tokoh utama belajar dengan tekun dan mengejar ketertinggalan dengan mengambil beberapa mata kuliah semester berikutnya yang bisa ‘dicicil’. Woala, ternyata ikhtiar yang dijalaninya membuahkan hasil, ia masih memiliki kemungkinan untuk lulus tepat waktu dengan syarat IP di atas 3.XX setiap semester (untu mengambil > 20 sks). Memang agak sulit dan memiliki tantangan tersendiri. Doakan saja semoga mahasiswa tersebut bisa mendapati dirinya dalam “Happy Ending Story“.

♥ ♥ ♥,

pinkvsgrey


What is your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s