Hujan Bulan Juni (Novel) – Sapardi Djoko Damono


Sebelum memulai resensi novel yang sudah pvg idam-idamkan sejak bulan Juni kemarin baru beberapa minggu kemarin kesampaian mendapatkannya dan ternyata sudah cetakan ketiga (dalam hitungan 3 bulan sejak buku ini dirilis). Kenapa pvg niat banget punya novel ini? Selain karena judulnya berbau bulan ‘Juni’, Puisi ‘Hujan Bulan Juni’ menjadi fenomenal sejak diterbitkan 1994 silam (pada bulan Juni tentunya). Penyair yang terkenal puitis, Sapardi Djoko Damono, dalam sajak-sajaknya itu kali ini menerbitkan novel berjudul sama dengan salah satu puisinya yang paling terkenal itu. Sapardi hanya membutuhkan waktu lima bulan untuk menulis novel tersebut dan tak kesulitan mengadaptasinya.

CAM02449

Judul                : Hujan Bulan Juni

Penulis             : Sapardi Djoko Damomo

Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit    : Juni 2015

ISBN                : 9786020318431

Tebal               : 135 Halaman

Sosok Sarwono adalah dosen muda yang mengajar Antropolog yang lihai dalam membuat baitan puisi memenuhi sudut surat kabar ini menjalin hubungan dengan Pingkan, Pingkan sendiri merupakan dosen muda di prodi Jepang. Pada dasarnya mereka sudah kenal sejak lama, apalagi Sarwono sendiri adalah teman dari kakak Pingkan, Toar. Mereka pun bingung sampai kapan hubungan ini dapat berlanjut ke pernikahan. Sebuah prosesi yang membutuhkan pemikiran dan tahap lebih dewasa. Sementara pada saat ini, mereka masih asyik dengan status pacaran sekarang.

Ada banyak likuan hidup yang dihadapi Sarwono dengan Pingkan. Terlebih mereka adalah sosok yang berbeda dari kota, budaya, suku, bahkan agama. Sarwono yang dari kecil hidup di Solo, sudah pasti orang Jawa. Sedangkan Pingkan adalah campuran antara Jawa dengan Menado. Ibu Pingkan adalah keturunan Jawa yang lahir di Makassar, sedangkan bapak Pingkan berasal dari Menado. Di sini mereka berdua tidak mempersoalkan apa itu suku beda, atapun keyakin yang berbeda. Ya Sarwono yang sangat taat pada agamanya (Islam), dan sosok Pingkan yang juga meyakini agama (Kristen) sepenuh hati.

Permasalahan tentang agama ini dicuatkan oleh keluarga besar Pingkan yang di Menado. Dengan berbagai cara mereka selalu bertanya pada Pingkan tentang hubungannya dengan Sarwono. Pertanyaan yang terlihat berniat menyudutkan, berharap Pingkan tidak melanjutkan hubungan dengan Sarwono.Harapan keluarga besarnya adalah dia menikahi sosok dosen muda yang pernah kuliah di Jepang dan sekarang mengajar di Menado. Sosok pemuda yang dari dulu juga menaksir Pingkan. Namun dengan berbagai upaya, Pingkan tetap bersikukuh mempertahankan hubungan itu dengan serius. Bahkan, dia berencana kalau menikah akan meninggalkan Menado dan tinggal selamanya di Jakarta. Tempat dia berkerja sebagai dosen.

Hubungan asmara Pingkan dan Sarwono ini tidak hanya mendapatkan aral dari keluarga besar Pingkan saja. Ketika Pingkan berhasil mendapatkan beasiswa ke Jepang, Sarwono merasa kehilangan dan ketakutan. Ketakutannya bukan dari keraguannya atas cinta Pingkan, namun lebih pada kehidupan dan orang yang ada di Jepang. Yah, di Jepang ada sosok sontoloyo Katsuo. Katsuo sendiri adalah dosen Jepang yang pernah kuliah di UI, tempat Sarwono dan Pingkan mengajar sekarang. Dan selama di Indonesia, Katsuo sangat dekat dengan Pingkan.

Tidak hanya alur tentang bagaimana Sarwono menahan diri dan meyakinkan dirinya sendiri kalau Pingkan tetap setia padanya. Di sini juga ada cerita bagaimana Sarwono harus kuat melawan batuk yang tidak berkesudahan. Batuk yang pada akhirnya membuat dia harus terkapar di pembaringan Rumah Sakit. Ada juga kisah tentang arti dari penamaan Pingkan, ya nama Pingkan diambil dari sebuah cerita yang sudah melegenda di Menado.

Berikut beberapa kutipan kalimat ataupun puisi yang ada di dalam novel ini;

“Tanpa aku kirim pun, karena puisi itu shaman tentu pesannya sudah sampai ke Kyoto. Ia merasa puas dengan pernyataannya sendiri – Halaman 8”

“Apa dosa dan salahku maka aku telah mencintai laki-laki Jawa yang sering zadul mikirnya ini? – Halaman 36”

“Yang aku cintai adalah Matindas yang lain-Tuama Minahasa yang bisa menaklukkan hatiku – Halaman 57”

Katamu dulu kau takkan meninggalkanku

Omong kosong belaka!

Sekarang yang masih tinggal

Hanyalah bulan

Yang bersinar juga malam itu

Dan kini muncul kembali

(Hujan Bulan Juni – Halaman 94)

Kita tak akan pernah bertemu;

Aku dalam dirimu

Tiadakah pilihan

Kecuali di situ?

Kau terpencil dalam diriku

(Hujan Bulan Juni – Halaman 133)

Sungguh alur cerita yang sulit untuk ditebak. Tulisan yang membuat pikiran melayang-layang seperti seorang penyair yang pandai memuji, namun kerap kali terlihat rapuh dan mudah meneteskan airmata. Pergolakan hati yang terus bertanya bagaimana mungkin aku bisa tetap meyakinkan diri ini dalam suatu hubungan, kalau kenyataannya kita sekarang berjauhan. Ya, novel ini benar-benar membuat kita terhanyut dalam alurnya ketika sedang membaca. Pvg rekomendasikan untuk membaca novel ini dan memilikinya (kalau belum ada rejeki boleh saja pinjam ke pvg juga hehe), sebuah novel dengan cara penulisan yang berbeda serta penuh syair di setiap kalimatnya dan masih tergolong ‘bersahabat’ untuk orang-orang yang masih awam soal sastra (seperti pvg).

♥ ♥ ♥,

pinkvsgrey

What is your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s