Sebuah Renungan di Hari Kartini


Ibu_Kartini_by_tormentrei

Pagi ini, saya mencoba membaca surat-surat Kartini, sebagai rasa hormat terhadap sosok wanita yang menjadi panutan kaum wanita. Tidak hanya bagi wanita yang terlahir di Pulau Jawa, tetapi juga oleh kaum wanita diseluruh Nusantara.

Tiba tiba mata saya bagaikan terpaku, membaca salah satu surat Kartini. Saya tidak tahu apakah diterjemahkan secara keliru  dari bahasa Belanda atau memang tulisan ini aslinya dalam bahasa Indonesia?

Membaca setiap kalimat dalam surat ini, terasa bagaikan tersengat aliran listrik. Begitu keras dan menghujam. Hal ini telah mendorong saya untuk mengutip dan mempostingnya disini. Tanpa sama sekali bermaksud masuk ke dalam konteks agama, melainkan semata untuk dijadikan renungan.

“Ya Tuhan, kadang-kadang saya berharap, alangkah baiknya, jika tidak pernah ada agama. Sebab, agama yang seharusnya justru mempersatukan semua manusia, sejak berabad-abad menjadi pangkal perselisihan dan perpecahan, pangkal pertumpahan darah yang sangat ngeri.

Orang-orang seibu-sebapa ancam-mengancam berhadap-hadapan, karena berlainan cara mengabdi kepada Tuhan yang Esa dan yang sama.

Orang-orang yang berkasih-kasihan dengan cinta yang amat mesra, dengan sedihnya bercerai-berai. Perbedaan gereja, tempat menyeru kepada Tuhan yang sama, juga membuat dinding pembatas bagi dua hati yang berkasih-kasihan.

Betulkah agama itu berkah bagi umat manusia? Agama yang harus menjauhkan kita dari berbuat dosa, justru berapa banyaknya dosa yang diperbuat atas nama agama itu! (Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902 (dikutip dari blog forum lintas batas)

Membaca surat ini, sungguh membuat saya merinding.

Entah mungkin diri pribadi saya yang terlalu berlebihan menanggapinya, membuat saya semakin rentan terhadap kalimat-kalimat yang mengandung pencerahan diri? Ataukah gabungan dari semuanya, yang menandakan bahwa diri saya adalah sosok yang melankonis? Entahlah. Jujur, saya sungguh tidak memiliki jawabannya.

Secara pribadi saya memaknai surat Kartini ini, tidak semata untuk kaumnya, yakni : “kaum wanita”, tetapi juga untuk semua orang. Masih menurut saya, sepotong surat ini, jauh lebih bernilai dari ratusan khotbah yang saya dengarkan di mimbar rohani dari agama mana pun.

Bagi saya surat ini adalah sebuah pencerahan diri, bahwa setiap orang yang mengaku beragama, seharusnya senantiasa hidup dalam saling asah dan saling asuh. Saling mengasihi dan bukan sebaliknya.

Saya jadikan introspeksi diri, apakah benar saya seorang beriman? Jangan-jangan agama hanya saya gunakan untuk pelengkap di KTP saja, karena itu saya tempatkan tulisan ini di kanal Writing.

Saya publish tulisan ini, tanpa minta ijin kepada Kartini, karena surat Kartini sudah menjadi milik bangsa Indonesia dan saya adalah satu dari 240 juta orang Indonesia.

Selain dalam bentuk tulisan, ‘vector’ ibu Kartini juga ada dalam portfolio (ada dalam Menu) atau di bit.ly/pvgportfolio

Bandung, Hari Kartini, 21 April 2015

♥ ♥ ♥,

pinkvsgrey

What is your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s