4/365 – Kenapa Tidak Jadi Pergi ke Surabaya?


Tepat tanggal 27 Desember setelah tanggal 26 Desember “Peringatan 10 Tahun Tsunami Aceh”. Masih diliputi rasa sedih dengan kabar duka saudara se-tanah air kami. Tiba-tiba saya bangun lebih awal jam 4 sepertinya, ada firasat. Tapi apa? Tepat pukul 6.15, saya mengaktifkan handphone dan iseng scroll Timeline LINE *biasa kurang kerjaan*. Ada berita tentang pesawat hilang. Hoax kali ya. Menurut saya sekilas. Iseng mungkin. Tapi kok kayanya serius.

Saya segera searching mencari semua hal dan berkaitan sama info pesawat dengan penerbangan QZ8501. Sejenak saya kira itu bohong. Ternyata para awak media membeberkan berita yang jauh lebih serius. Saya takut. Sumpah. Apalagi pengalaman saya selama ini naik pesawat tidak begitu menyenangkan. Mulai dari nunggu delay yang lamanya naudzubillah, pas pesawat mulai naik telinga saya sudah berdenging padahal ketinggiannya belum maksimal, dan yang paling membuat saya kesal adalah masih banyaknya para penumpang yang mengaktifkan handphone selama terbang.

Setelah saya usik lebih dalam tentang berita menghebohkan subuh itu ternyata sang pramugari juga sebelum pesawat tersebut diduga jatuh juga sempet-sempetnya meng-upload foto di akun instagramnya. Halo! Sadarkah kalian akan nilai NYAWA bukan hanya nyawa kalian tapi juga semua nyawa yang se-pesawat dengan kalian. Saya tahu sepertinya kalian sibuk mengabari sanak-saudara, berbincang dengan rekan sejawat, asik dengan dunia sendiri, tapi tolong non-aktifkan hp saat berada di dalam pesawat. Plane Mode On itu tidak menjamin 100% keamanan sinyal kalian akan mengganggu transmisi pesawat *sotoy dikit gpp yah, nakut-nakutin heuheu* cuma sebentar kok gak sampai dua jam. istirahatkanlah sejenak mata yang sering menatap layar mungil itu, jari yang mengetuk-ngetuk lembut, dan pikiran kalian.

Sebenarnya saya tidak bermaksud menggurui apalagi marah. Tidak kesampaian berbuat itu. Tidak. Tapi dimana pun kalian berada kita secara tidak langsung mendekatkan diri dengan maut, apalagi berbuat hal sepele yang bisa megundang maut makin mendekat. Saudaraku, aku mau mengingatkan kalian, siapapun kalian, baik yang menikmati saat naik pesawat maupun yang tidak sama sekali menikmati perjalanan pesawat seperti saya, TOLONG JANGAN SEKALI-KALI AKTIFKAN HANPHONE KALIAN SELAMA DI DALAM PESAWAT.

Itu saja. titik.

https://i0.wp.com/shiftindonesia.com/wp-content/uploads/2015/01/SHIFT-SSCX-Airasia-21-600x467.jpg

Tragedi AirAsia QZ 8501 menyisakan beberapa pertanyaan penting. Salah satunya: Apakah penyebab kecelakaan yang menewaskan seluruh penumpang beserta kru low cost carrier yang berjumlah 162 orang itu faktor cuaca atau faktor manusia (human error). National Geographic Indonesia dalam artikel yang dipublikasi pada 31 Desember 2014 merangkum beberapa fakta seputar tragedi AirAsia QZ 8501. Dan menimbulkan pertanyaan penting lainnya terkait tragedi tersebut. Berikut kutipannya: Bahwa cuaca buruk di lintasan yang dilalui dari Surabaya menuju Singapura rasanya tidak terbantahkan lagi. Ada juga satu fakta: Pilot AirAsia minta izin naik ke ketinggian untuk menghindari cuaca buruk. Izin tidak diberikan menara pengawas. Setelah itu Airbus 320 itu hilang kontak. Dan jatuh. Koran The Straits Time Singapura hari ini menampilkan grafis yang memperlihatkan posisi pesawat di jalur maut itu sesaat sebelum kecelakaan terjadi. AirAsia 8501 terbang di ketinggian 32 ribu kaki, paling rendah. Di atas AirAsia 8501 ada tujuh pesawat lainnya (lihat grafis). SHIFT SSCX Airasia 1 Masuk akal kalau menara pengawas (ATC) tidak memberi izin ke pilot AirAsia 8501 untuk menambah ketinggian. Itulah titik awal penyelidikan. Dua pertanyaan lain menyusul. Pertama: Mengapa AirAsia 8501 tetap diizinkan terbang padahal jalur penerbangan pada jam itu demikian padatnya. Cuaca juga merah di beberapa spot. Kedua: Mengapa (atau apakah boleh dibenarkan) AirAsia memajukan jadwal penerbangan dari jadwal  semula pukul delapan pagi ke pukul 05.30. Stasiun CNN menyoroti pertanyaan kedua. Memajukan jadwal penerbangan ke jam yang sibuk dan pada saat cuaca buruk dianggap sebagai keputusan yang salah. Masalahnya, seperti terlihat pada grafis, dalam kondisi cuaca buruk, pilot membutuhkan ruang maneuver yang lebih besar dan lebih tinggi. Hal itulah yang tidak diperoleh pilot berpengalaman dari AirAsia 8501. Cuaca buruk. Pilot tidak memiliki ruang untuk menaikkan pesawat. Jadwal dimajukan ke jam sibuk. Beberapa hari ke depan, publik menunggu penjelasan yang lebih komprehensif mengenai apa yang terjadi. Kecelakaan AirAsia  bukan cuma soal AirAsia dan korban beserta keluarga. Ini soal yang lebih besar: Apakah kita bisa menggantung nasib kita, nasib keluarga kita, pada pengelola industri penerbangan. Apakah maskapai penerbangan murah benar-benar harganya murah atau nyawa manusia yang dinilai murah. Inilah inti soalnya: Seberapa kuat otoritas penerbangan dan pengelola low cost carrier berpihak pada nasib manusia. Memang fakta kecelakaan itu tidak berhubungan langsung dengan alasan saya membatalkan rencana career visit ke Surabaya. Lagipula di saat saudara di kota itu berkabung rasanya sedikit ganjal untuk bersenang-senang. Saya cuma bisa mendoakan agar proses evakuasi korban Airasia QZ8501 dapat berjalan lancar dan cepat, kemudian misteri tentang jatuhnya pesaat tersebut segera terungkap. Aamiin…

Salam Penuh Duka,

Asyrafinafilah Hasanawi

What is your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s