3/365 – Naik ke Menara Kembar Bandung


Dengan dilandasi oleh semangat Ketuhanan Yang Maha Esa untuk meramaikan kembali pinkvsgrey yang nyaris membusuk ini, didukung dengan belum jelasnya tanggal pasti rencana jalan-jalan ke Subang/Garut, gue mengambil inisiatif buat ngebolang sendiri hari ini. Yep, tujuan gue blusukan hari ini adalah mengunjungi beberapa objek heritage di Bandung yang belum pernah gue kunjungi: Masjid Raya Bandung dan sekitaran Jalan Asia-Afrika.

Dari starting point di depan Sukaasih Ujung Berung, gue nunggung duduk manis di halte bus Damri. Gua nungguin si doi Cibiru-Kalapa. Kenapa gue milih naik bis soalnya murah dan ber-ac *kebetulan yang naik dikit jadi semakin dah*  #pffft

Gue turun agak kebablasan dikit, sampai ujung Jl. Veteran yang udah banyak pedagang asongan dan toko-toko. Sempet bingung jalan ke mana. Gue tanya ke Tuhan, dan Dia menjawab melalui sebuah papan jalan gede yang menunjukkan arah Masjid Raya Bandung. Oke, tinggal jalan lurus, entah berapa kilometer. Meskipun jalannya juga nggak deket-deket amat, tapi jalan kaki menuju Masjid Raya Bandung ini cukup gue nikmati. Tak jauh dari titik awal gue jalan kaki, gue melalui H.M. Harris yang udah kondang itu. “Ooohh, di sini toh rumah makan sate itu.” #katrok #kuper #bodoamat.

Gue juga melalui sebuah persimpangan yang besar, nyaris seperti sebuah bunderan, dengan sebuah bangunan kuno bergaya art-deco berdiri anggun di salah satu sudutnya. Bangunan ini saat ini difungsikan sebagai sebuah gedung instansi perbankan.

Gedung Reksadana yang bergaya art-deco

Sampai akhirnya, gue pun masuk ke wilayah Jl. Asia-Afrika. Gue suka banget dengan jalan ini, mungkin jalan yang paling gue sukai di Bandung. Jalan Asia-Afrika ini mulus, bersih, diapit dengan trotoarnya yang lebar. Gedung-gedung perkantoran yang modern berdiri bersanding gedung-gedung masa kolonial yang masih tampak anggun di tengah perkembangan jaman. Buat kalian pecinta arsitektur, atau para fotografer lanskap, this is the perfect place for you in Bandung! Hasrat seni dan fotografi kalian akan terpuaskan! Beberapa bangunan klasik di sini adalah: Hotel Grand Preanger, Hotel Savoy Homann, Gedung OCBC NISP, Gedung Merdeka, Museum Konferensi Asia-Afrika, dan teman-temannya. Gue sampai bingung mau ambil foto yang mana.

Hotel Savoy Homann

Gedung OCBC NISP, entah apa nama asli gedungnya

Oh ya, baru-baru ini gue dapat informasi, ternyata Bandung adalah kota dengan bangunan art-deco terbanyak ke-9 di dunia. Nggak heran, karena emang banyak bangunan art-deco sih di sini. Ada di sepanjang kawasan Asia-Afrika, Braga, dan Balai Kota. Mungkin di bagian lain juga ada, seperti di simpang Jl. Ir. H. Juanda – Jl. Sultan Agung, di mana berdiri Gedung Tiga Warna (De DrieKleur) yang sekarang difungsikan menjadi gedung instansi perbankan. Mayoritas terspesialisasi pada gaya modern streamlined atau Nieuw Bowen.

Finally, sampailah gue di belakang Masjid Raya Bandung. Masuk ke dalam, gue sempet bingung (lagi) gimana caranya bisa masuk dan naik ke puncak menara. Selama beberapa menit gue berjalan mengelilingi masjid, mengacuhkan kerumunan orang yang bersantai-santai di pelataran masjid. Gue balik lagi ke titik semula, dan baru gue ngeh ada pos masuk ke menara di situ. Hadeh, mata gue ini emang kurang jeli sih -_____-

Karena menara berada di dalam gedung masjid, maka pengunjung diharuskan melepas alas kakinya. Bisa dititipkan, atau bisa juga dibawa naik ke atas menggunakan tas kresek. Ada penjual tas kresek di area masjid dengan harga “seikhlasnya”, serius. Gue kasih seceng ajalah, segitu udah lebih dari cukup kayaknya. Tiket masuk untuk dewasa adalah Rp 3.000,00 dan hanya buka sampai pukul 17.00 pada hari Sabtu dan Minggu. Hari biasa hanya melayani rombongan. Jadi kalau lo pengen naik ke menara masjid pada hari Jumat tapi lo sendirian nggak ada temen, ajak aja tuh pedagang-pedagang di sekitar, kali aja mau #pffft

Tadinya, gue mengira gue harus berjalan menaiki ratusan anak tangga untuk bisa sampai ke puncak menara. Ternyata ada lift, jiahahahaha. Duh, katrok banget gueee. Di dalam lift ada seorang petugas yang siap membantu pengunjung naik ke deck view di lantai 19, lalu juga melayani pengunjung yang ingin turun. Teruuusss kayak gitu, udah kayak kenek bus Cikijing tapi gak cerewet #eh.

Sampai di atas… ternyata lumayan rame, bo! Ada beberapa geng pengunjung yang asik berfoto-foto narsis di situ. Serius, mereka cuma foto-foto narsis, nggak ada fotografer profesional yang khusus mengabadikan keindahan panorama Bandung dari ketinggian. Ada sih segerombolan anak muda yang bawa DSLR, tapi… buat narsis-narsisan jugaaa. Aaaaaaaaakkk, kameranya kasih ke gue aja siniii, gue lebih butuh kayaknyaaa. Nah, ini nih, sekarang fotografi dan travelling lagi ngetren, dan banyak orang berbondong-bondong membeli DSLR meskipun mereka sebenernya nggak concern di bidang fotografi atau travelling. Lebih buat gengsi. Fine!

Oke, kembali ke cerita jalan-jalannya. Karena gue ini emang suka dengan panorama perkotaan (tapi panorama alam yang kece badai juga suka kok), gue sampai ambil foto beberapa kali untuk objek yang sama. Gue berjalan mengelilingi deck, agak menahan geli saat melihat ibu-ibu berfoto agak alay di depan jendela.

Wan Wan Emoticons 46

DSC_2062

DSC_2057

DSC_2061

Harap maklum kalau foto view-nya agak kabur, kehalang kaca soalnya, dan nggak ada area yang bebas kaca jendela. Mau foto dengan posisi persis di depan view juga susah, selalu gelap.

Puas foto-foto dan menikmati pemandangan sambil bergalau ria nginget-nginget masalah hidup, gue bergerak turun bersama segeng cowok-cowok SMA yang tadi juga minta tolong difotoin. Duh, jadi fotografer dadakan deh.

Nah, di akhir pekan (hari Sabtu dan Minggu), Masjid Raya Bandung ini lebih ramai. Pedagang-pedagang segala jenis (makanan, pakaian, sampai speaker aktif abal-abal) tumplek blek di pelataran masjid alias alun-alun. Demi memuaskan hasrat lapar dan haus yang mulai melanda sukma dan raga. Kalo ke Alun-alun Kota Bandung (alias Mesjid Raya) gue wajib minum atau makan yak yang namanya Cendol Elizabeth. Wih baca aca tuh namanya Elizabeth men… Di sana lu bisa memandang cendol-cendol bertaburan dimana-mana. Gue cari yang paling dekat aja, mageran sih.

Selesai sudah perjalanan kecil gue hari ini. Gue pulang pake damri doi Cibiru-Kalapa yang harus gue tunggu sampai sejam lamanya karena eh karena jalanan Bandung yang mulai ramai alias macetos. Btw, Happy weekend, guys. Cheers! 😀

2 Comments Add yours

  1. NiksenH says:

    Hi, gedung OCBC NISP di Asia Afrika itu nama aslinya De Vries. Aslinya pertokoan, 1 gedung itu dibagi jadi beberapa toko.

    Liked by 1 person

    1. pinkvsgrey says:

      Terima kasih info dan kunjungannya Niksen H 🙂

      Like

What is your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s