1/365 – 2015


Tulisannya kang gibran, mantan kahim bio, sekaligus entrepreneur yang kece bgt udah mendunia :-))

Agak lebih panjang dari biasanya, mudah-mudahan ada isinya.

MATI UNTUK HIDUP

Biasanya di awal tahun seperti ini saya sibuk menulis catatan resolusi yang panjang dan asal-asalan. Tujuannya supaya bisa dipajang di tembok atau layar handphone. Atau sekadar penenang diri kalau saya punya target hidup untuk satu tahun ke depan, walaupun nyatanya sebatas formalitas. Entah karena alam bawah sadar saya sudah bosan ditipu target yang tidak sekeras itu diusahakan tercapai, atau hanya karena belum mood, saya belum menulis resolusi barang sebiji. Entah kenapa.

Yang saya pikirkan sejak kemarin, justru sekelebat bayangan kakek saya, saudara sebaya saya, teman lama saya, dan secarik kertas yang ditulis ayah saya dan ditempel di depan pintu kamar dulu di masa saya SD dan SMP. Ketiga hal ini dihubungkan oleh satu hal, suatu fenomena universal yang diyakini secara absolut oleh semua orang: mati. Ini hal yang jarang-jarang, tetapi beberapa hari ini saya dibayangi oleh pikiran tentang kematian. Entah dari mana.
Memikirkan tentang mati, di saat saya sedang berpikir tentang resolusi tahun 2015 rasanya sangatlah aneh, tidak seperti biasanya. Setiap menulis poin target tahun ini, tangan saya bergetar, karena dihadapkan dengan pertanyaan: jika ini adalah tahun terakhir saya, benarkah ini yang ingin saya lakukan dan capai? Beberapa kali saya hapus target yang sudah ditulis, karena hilang nilainya dihadapan pertanyaan tentang kematian.

Contohnya, saat saya menulis “Membeli Mobil” sebagai target tahun ini. Karena saya merasa sering bolak-balik keluar kota dan terhambat hujan di perjalanan, memiliki mobil nampaknya jadi pilihan yang berguna dan rasional. Setelah menulis target ini, saya dihadapi pertanyaan tadi, hingga saya berpikir: jika di tahun ini saya mati, benarkah sebuah kendaraan yang tidak akan saya bawa di makam, menjadi target yang layak saya kejar? Saya terdiam diri oleh pertanyaan yang saya lontarkan sendiri. Lalu saya menghapusnya dan mengganti dengan hal lain yang lebih bermakna daripada benda. Ini terjadi di setiap poin yang saya coba tulis. Di satu titik, saya tersadar bahwa resolusi yang saya targetkan kini benar-benar penuh daya, hanya karena saya mengingat mati sebelum menuliskannya. Alih-alih melanjutkan menuliskan tentang resolusi, sekarang saya justru berkontemplasi tentang mati sebagai kesatuan konsep yang berguna dalam hidup.

Kematian adalah sebuah konsep intelektual. Dalam sebuah pidato kelulusan di Stanford, Steve Jobs pernah menyampaikan hal yang sama persis dengan ini. Dia juga menyampaikan, bahwa mengingat kematian adalah alat terbaik untuk membantunya menentukan pilihan besar di kehidupan. Setiap harinya selama puluhan tahun, ia selalu bertanya ke cermin, “If today were the last day of my life, would I want to do what I am about to do now?”.

Kematian, sebagai sebuah konsep berpikir, akan mampu mencerabut segala hal yang menahan kita saat hidup: kegagalan, kebanggaan, ekspektasi, harta. Kita akan sadar bahwa, dalam hidup, kita tidak akan kehilangan apa-apa, karena saat mati kita tidak akan membawa apa-apa. Yang tersisa di dunia hanyalah apa yang akan kita tinggalkan, dan setiap individu pasti hanya ingin meninggalkan kebaikan. Kematian mampu membantu kita memilah aktivitas apa yang akan kita tinggal, hingga kelak menyisakan residu kebermanfaatan. Kematian mampu menghantam segala ketakutan akan resiko kegagalan, dan kebanggaan berlebih akan pencapaian semu. Kematian mampu memperlihatkan kita tentang mana yang makna, dan mana yang fana. Maka, tidak ada lagi alasan kita untuk tidak mengikuti kata hati, dan mengejar hal-hal yang paling bernilai melebihi diri dan materi. Kematian mengajarkan kita untuk melakukan hal yang terbaik dalam hidup, dalam setiap peluang yang ada.

Kematian adalah sebuah konsep emosional. Sebagai contoh, adalah salah satu bagian favorit saya yang ditulis Viktor Frankl di bukunya Man’s Search for Meaning. Dalam salah satu momen di tahanan kamp konsentrasi Nazi, saat para tahanan digiring di tengah kegelapan, di atas bebatuan, di angin yang beku, dan di hadapan wajah kematian, salah seorang dari mereka tetiba berbicara tentang istrinya. Hal ini memicu para tahanan lain untuk tersenyap, memikirkan tentang istri mereka masing-masing. Mang Viktor pun demikian. Ia terkenang wajah istrinya yang hangat, senyumnya yang manis, dan tatapannya yang lembut. Hatinya sekejap teriris, tapi juga tenang. Di hadapan mati, bukan siapa pejabat yang kita kenal yang nanti akan kita ingat, tapi siapa yang kita cinta dan mencintai kita.

Kematian menjadikan kita makhluk penuh haru, hingga mudah merasakan hal ini: jika hari ini kita mati, cukupkah kata cinta terucap untuk pasangan kita? Cukupkah bakti terurai untuk ayah ibu kita? Cukupkah pelajaran teralir untuk anak dan adik kita? Cukupkah hangat terbagi untuk sahabat kita? Bukan sekumpulan kartu nama yang kini jadi ada arti jika dikaitkan dengan mati, tetapi hubungan emosi. Maka, dalam getar, tak akan tega kita sedikitpun mengucap hal kasar kepada orang-orang yang kita sayangi dengan besar. Dan dihadapan mati, kata maaf dan kasih menjadi murah dan penuh arti. Di hadapan mati, hubungan manusia tidak hanya sekadar transaksi, tapi tentang siapa-siapa yang kelak akan kita tangisi. Kita akan membangun diri untuk menjadi orang yang kehadirannya disyukuri. Jika sebagai konsep intelektual kematian menjadikan kita bijak, maka, sebagai sebuah konsep emosional, mati menjadikan kita berbudi dan hangat.

Kematian adalah sebuah konsep spritual. Ini adalah hal yang paling mendalam. Jika kedua konsep tadi hanya membawa kita di dunia, kematian dalam konsep spiritual akan membuat kita berpikir tentang dampak terhadap kehidupan setelahnya. Kematian akan memecut ingatan kita tentang hadits Bukhari ini: “…karena sesungguhnya hari ini (di dunia) yang ada hanyalah amal perbuatan dan tidak ada hitungan. Dan besok (di akhirat) yang ada hanya hitungan dan tidak ada amal.”

Kematian menjadi titik akhir kita hidup di dunia, sebagai satu-satunya garis waktu yang berisi kesempatan kita mengisinya dengan amalan yang kelak akan kita bawa. Maka, menghubungkan diri dengan kematian, akan dengan mudah mencetuskan kita akan pertanyaan: jika di menit ini kita mati, cukupkah kelak amalan ini menyelamatkan kita nanti? Atau justru kita akan menangisi banyaknya dosa dan lalai yang kita kerjakan? Mengingat mati yang beriring iman, adalah salah satu metode paling efektif untuk kita bisa benar-benar mengoptimalisasi setiap detik dan aktivitas menjadi ibadah yang memiliki nilai. Kematian menjadi pengingat, layaknya secarik kertas milik ayah saya yang ditempel di depan pintu dulu: “Alangkah banyaknya kuhabiskan waktu pagi dan petang untuk perbuatan tak berarti, sedang pada saat itu, kain kafanku sedang ditenun tanpa kusadari”.

Sebagai sebuah kesatuan konsep, dari sudut pandang manapun, kematian memang sangat berguna. Terlebih lagi, menjelaskan satu fakta tak terelakkan bahwa hidup adalah sebuah batas. Maka, secara intelektual, emosional, maupun spiritual, mengingat kematian mau tidak mau mendorong kita untuk menembus batasan itu. Bukan untuk bisa hidup selama-lamanya, tetapi untuk bisa membuat sesuatu yang akan bertahan selama-lamanya. Di resolusi tahun 2015 ini, mungkin kita bisa menggoreskan “ingat mati” sebagai salah satu target kita setiap hari. Karena, dengan mengingat mati, kita bisa benar-benar hidup.

Salam sayang,
Aa Ganteng | @gibranwow
cybreed.co.id | efishery.com

What is your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s