Kibul


Memang manusia punya hakikat berakal cerdas, berbudi pekerti baik.
Akan tetapi banyak yang menyalah gunakannya.
Dia pikir pikirannya yang cerdas bisa digunakan untuk mengibuli orang.
Dia pikir semua bisa ia rekayasa demi sebuah pujian.
Hei manusia bisakah berpikir sejenak.

Kapan kah peradaban berbohong ini dimulai.

mungkin ini warisan leluhur kita.

warisan yang dijaga dan tetap lestari.

Berbohong kadang digunakan sebagai alasan untuk tidak saling menyakiti.

Dia bilang ‘ aku sengaja menutupi ini agar dia tidak terluka’.
Apakah bohong yang seperti itu dibenarkan?

Apa Tuhan tahu kalau setiap insan ciptaannya melakukan itu
berulang kali, berkali-kali,
hingga ia tidak dapat membedakan lagi
apakah ia berdusta atau berkata jujur.
 

Kibul, kabul, kibol, gilak.
 

‘Bohong sudah membudaya di dunia manusia. Tidak perlulah kita bersusah payah seperti dahulu untuk merayu mereka menjadi bagian kita’ ujar seorang syaitan kepada jin nakal.

Dunia mulai melahirkan banyak tukang kibul atau para ahli kibul rupawan.
Layar kaca dipenuhi kekibulan.
Apa saja yang kulihat hanya fana dan semu.

Wajah berseri cuma topeng dibalik retrorika dunia.

Apa Tuhan memang sengaja merancang dunia
berakhir dengan terkumpulnya para pembohong agung.

Sudah dipuja puji oleh orang banyak,
dia masih memasang kata-kata indah itu dijidatnya.
Dia pikir kita tidak tahu.
 

Atau salahkah orang tua yang hendak memasukkan buah hatinya di tempat yang layak tapi mereka perlu tipu-tipu terlebih dahulu.

Apa Tuhan marah dengan orang tua yang begitu menyayangi anaknya.
 

Kemana semua orang baik?
apa aku juga termasuk para anggota gang satan yang memuja dunia
ikut kibul kanan-kiri depan-belakang bahkan tenggara.

Fiksi dan nyata mulai terlepas keadaannya.
Virtual dan fiksi sama-sama berbohong mereka bilang mereka cuma hiburan.
Sekarang tidak lagi.

Sekarang mereka menyerangmu dari belakang punggung
dengan sebuah belati tajam yang selama ini kau asah seorang diri dengan sendirinya.
Tidak sadarkah

‘Kau yang mengasah sendiri belati untuk membunuhmu’ ujar virtual kepada dia.
Haruskah dia mulai setuju dengan ucapan itu atau mulai berbohong lagi
dengan menyangkal hal tersebut.

Satan mulai berbisik ‘sudahlah sepakat untuk tidak sepakat’.
Maksud ucapan ini absurd, dia tidak mengerti
Sepakat
Sepakat
Tidak
Tidak Sepakat.
Sepakat dan tak.
 

Hanya sebuah buah pikiran singkat dan dangkal seorang mahasiswi teknik yang ingin bersanjak. Bukan hal yang patut dipermasalahkan. Toh. Kita semua adalah masalah.

Terus berpikir agar tidak pikun. Terus menulis untuk keabadian. Terima kasih, para penguntit dan para buruh ;;-)

Wassalam.

What is your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s