Mikrofon


Aku lihat diriku berubah
di depan mikrofon.

Kukira aku bisa jadi merak
yang sanggup mengibarkan empat warna bulu
kiranya aku cuma tokek
dengan vokal yang bikin orang kesal.

Aku lihat diriku berubah di depan mikrofon.

Sering kurasakan diriku
seperti seekor kadal yang ingin terkenal
tapi kadang-kadang mirip burung beo
dengan cara berdiri dan bicara
yang senantiasa salah tingkah.

Aku lihat diriku berubah di depan mikrofon.

Di depan orang banyak aku jadi domba kampung
yang memperindah-indah bahasa
atau monyet genit yang lebar hidungnya
tapi yang paling sial adalah
ketika aku terjemahkan diriku
jadi babi lupa diri.

Di depan mikrofon
pada hari Senin aku jadi burung merak
Selasa tokek, Rabu bengkarung, Kamis beo,
Jumat domba, Sabtu monyet, dan Ahad babi.

Sepanjang minggu dalam diriku telah kuciptakan sebuah kebun binatang.

Aku ingin bertanya pada angin
bagaimana cara dia menghadapi mikrofon ini.

(t.i., ’92)

What is your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s