Boneka Gajah; Sekolah Gajah


waktu memang cepat berlalu rasanya baru kemarin saya tinggal di Rawamakmur, Bengkulu. Bibi Revi yang sabar dan telalen itu masih mengurusi aku, yang doyan makan tim ayam waktu bayi. Buat tim ayam itu tidak mudah loh kawan! dagingnya harus ditumbuk halusss sekali agar bayi tidak susah menelannya. Kemudian, ada om Angga yang selalu menyeruput kopi ke mulut saya, pantas saja saya sampai sekarang suka banget kopi. Toh emang dari kecil udah dicengkoki kopi, sampai-sampai Umi pernah manggil saya “Mbah” gara-gara keranjingan nyeduh kopi tiap hari (bahkan 2x sehari) sangking nagihnya.

Setelah di Rawamakmur, kami pindah ke Padang Harapan. Sedikit memori yang saya ingat. Mungkin segelintir saja. Saya sering bermain dengan telepon mainan yang ayah belikan sebagai oleh-oleh dari Jember. Teleponnya cantik loh kabelnya muter-muter (apa menariknya?!) kalau baterainya masih ada pas mencetin tombolnya bakal keluar warna lampu putih loh! Fancy! Sayangnya karena ekonomi keluarga tidak baik, sampai bateraipun tidak sanggup beli (kecuali untuk keadaan genting misalnya buat senter, kan ga lucu senternya diganti sama telepon mainan. emang sih sama-sama nyala tapi kan….) Kami tinggal bertetangga dengan pasangan suami istri yang punya banyak anak laki-laki. Semua anak laki-lakinya sangat suka bermain bersama dengan adik saya yg kedua (laki juga), saya pasti selalu dicuekin.

Lanjutkan ya Kawan waktu itu kami sekeluarga pernah ke sirkus kota Bengkulu. Ada sesi foto-foto gitu sama hewannya. Sebenarnya saya tidak berminat sih (lagian takut juga). Ayah dengan sedikit memaksa menarik saya ke panggung sirkus buat difoto (lumayan kenang-kenangan). Ada beberapa pilihan hewan seperti lumba-lumba, gajah, dan monyet. Dengan pertimbangan menggunakan akal kekanak-kanakan, saya memutuskan foto sama monyet kayanya dia jinak sih .-. Dari pada lumba-lumba, nanti kalo saya dibanjur gimana, terus digigit siapa yang tanggung jawab toh di Bengkulu kayanya ga ada praktek dokter hewan. Terus gajah, tau sendirikan gedeeee banget ntar keinjek lumayan gepeng. Mati gaya!!!Setelah berfoto dengan muka seperti zombie, pundak diangkat, wajah pucat pasi, dengan pose tangan tidak bersahabat, alhasil foto itu dicetak dan kami bawa pulang. Lucu juga sih (sekarang foto tsb ga tau di mana rimbanya).

Banyak yang peristiwa sejarah yang terjadi dulu….. Tentu bukan G30S/PKI ya! Saya tentu belum dilahirkan.

terkadang ada siluet ingatan tentang Pak Harto di benakku, saat itu memang sedang krisis moneter. Pak Harto banyak dibicarakan. Aku masih bingung dan tetap menonton tv yang cuma berisi saluran tvri. Yah sangat disayangkan beliau akhirnya lengser jua.

Lalu, kami sekeluarga kecil (tanpa Bi Revi, om, tante, dan lalalala…) pun pindah ke “Rumah Panas”. Ga tau juga kenapa dinamain rumah panas, perasaan di Bengkulu emang semua rumah panas haha. Saat itu masih lekat diingat saya. Ada dua orang gadis datang ke rumah, salah satu di antara mereka membawa hadiah ulang tahun keempat saya. Saya mendapat boneka gajah. Yang entah mengapa sampai saat ini masih menemani saya di meja belajar. Mungkin karena itu saya bisa masuk sekolah gajah ya~

boneka gajah

What is your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s